SEARCH

DAFTAR HALAMAN

Tampilkan postingan dengan label Manajemen Operasi Global. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Operasi Global. Tampilkan semua postingan

PRODUK BISKUIT OREO PRODUKSI PT. KRAFT INDONESIA

Kraft Foods (dinamakan sesuai nama pendirinya, yaitu James Lewis Kraft) merupakan perusahaan produsen makanan terbesar ke-2 di dunia (setelah Nestlé). Kraft terdaftar di Bursa Saham New York. Pada tahun 1988, Altria Group (ketika itu masih bernama Philip Morris) mengakuisisi Kraft senilai 12,9 miliar USD. Pada tahun 2000, Altria Group mengakuisisi produsen biskuit Nabisco dan menggabungnya (merger) dengan Kraft (dimana Kraft kemudian menjadi Flagship). Saat ini Kraft telah menjadi perusahaan mandiri yang terpisah dari Altria Group, setelah seluruh sahamnya pada Kraft dilepas ke publik. Pada bulan November 2007, Kraft mengumumkan bahwa perusahaan tersebut telah mengakuisisi divisi biskuit milik Danone di seluruh dunia yang kemudian menjadikan Kraft sebagai produsen biskuit terbesar di dunia. Kraft berkantor pusat di Northfield, Illinois, Chicago.
Oreo adalah nama dagang dari sejenis biskuit yang diproduksi oleh Nabisco, pertama kali pada 1912. Terdiri dari dua wafer coklat dengan krim putih di tengahnya. Salah satu cara populer untuk memakan Oreo adalah dengan mencelupkannya ke dalam susu. Selain itu Oreo juga digunakan untuk bahan baku untuk makanan lain, misalnya milkshake, dan es krim. Di Indonesia, Oreo diproduksi oleh PT. Kraft Indonesia atau Kraft Foods Indonesia.
Berdasarkan pernyataan dari Kim McMiller, selaku Associate Director of Consumer Relations, dua tahap proses digunakan dalam pembuatan biskuit Oreo. Adonan dasar Oreo dibentuk menjadi bentuk biskuit yang bulat dengan menggunakan mesin cetakan roti yang berputar yang kemudian masuk ke dalam oven. Sebagian besar produksi Oreo dikerjakan di pabrik Kraft ataupun Nabisco di Richmond, Virginia. Biskuit Oreo untuk pasar Asia diproduksi di Indonesia dan Cina. Sedangkan biskuit Oreo untuk pasar Eropa diproduksi di Spanyol.
Bahan baku utama produksi Oreo adalah susu, dimana produksi Oreo di Indonesia sebagian besar bahan bakunya dipasok dari dalam negeri. Meskipun 10% dari bahan baku (susu) Oreo tersebut diperoleh dari luar negeri atau impor, namun tetap dalam lisensi Nabisco.
Gambar di atas merupakan rantai persediaan (supply chain) yang dibutuhkan dalam perusahaan pembuat biskuit. Pada gambar tersebut terdapat penyuplai gandum yang menyuplai kebutuhan gandum untuk pembuatan tepung yang dibutuhkan oleh pabrik tepung selanjutnya tepung yang dihasilkan akan dikirim ke pabrik biskuit kaleng untuk kemudian diolah menjadi biskuit. Selain tepung juga terdapat susu dan keju, susu diperoleh dari penyuplai susu yang biasa menampung susu perahan langsung dari para peternak sapi perah. Sedangkan keju didapat dari pabrik keju, pabrik keju ini memperoleh susu dari penyuplai susu yang sama dengan penyuplai susu yang menyuplai perusahaan biscuit kaleng. Untuk telur diperoleh dari peternak telur ayam yang biasa menjualnya kepada penyuplai telur kemudian sampai ke pabrik biscuit. Gula diperoleh langsung daripabrik gula, dimana bahan bakunya diperoleh langsung dari para petani tebu. Untuk sistem penjualan atau pendistribusian hasil dari perusahaan biskuit kaleng ini pertama-tama dilakukan dengan oleh distributor, distributor ini mengirimkan produk ke toko atau supermarket dan juga agen-agen yang khusus menjual produk ini selanjutnya dapat sampai ke tangan konsumen.

DAFTAR PUSTAKA

http://agung-praptapa.blog.unsoed.ac.id/2011/04/05/tugas-6-strat-man-kelas-selasa/
http://dinarjamaudin07.wordpress.com/management-crisis/
http://edwanyudi.blog.binusian.org/2011/01/09/tugas-km-part-ii-oreo/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kraft_Foods
http://id.wikipedia.org/wiki/Oreo
http://organisasi.org/kraft-oreo-wafer-krim-coklat-chocolate-cream-snack-makanan-ringan
http://terselubung.cz.cc/2010/02/semua-tentang-biskuit-oreo.html
http://www.kraftfoodscompany.com/home

TEKTRONIX, Inc. : IMPLEMENTASI ERP GLOBAL & HASILNYA

Implementasi ERP di Tektronix berjalan dalam 5 tahap subproyek. Tahap pertama adalah implementasi sistem manajemen keuangan (Financials) dipimpin Garry Allen, direktur IT bagian keuangan. Tahap kedua hingga keempat adalah implementasi OMAR (Organizational Management/Accounts Receivable) di ketiga divisi Tektronix dipimpin oleh setiap direktur IT di masing-masing divisi. Tahap terakhir adalah implementasi secara global dipimpin Gordon. Financials akan diimplementasikan sejalan dengan implementasi OMAR di CPID. Proses implementasi pertama kali di lakukan di Amerika , dengan tujuan agar tim proyek dapat memperoleh dasar fungsionalitas sistem dalam sebuah negara sebelum akhirnya berlaku secara internasional dengan kompleksitasnya.

Implementasi secara global
Tim implementasi memperpanjang cara implementasi yang dibagi dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama dilakukan di dataran Eropa, berawal dari implementasi di Belanda, menggunakan metode ‘big-bang’; mengimplementasikan ketiga divisional secara bersamaan. Kemudian dilanjutkan dengan mengimplementasikannya di dataran Amerika. Karena adanya perbedaan geografis antara Kanada, Meksiko dan Brazil dan kurangnya sinergi proses bisnis diantara ketiganya, maka Tektronix melakukan implementasi terhadap ketiga divisional itu secara bergiliran di setiap negara. Tantangan terbesar adalah proses implementasi di datara Asia/Pasifik, tim memulainya dari negara yang berbahasa inggris yaitu Singapura dan India. Mereka menghadapi kesulitan bahasa di Korea, Taiwan dan Hong Kong, namun ditemukan solusi yaitu dengan melakukan kostumisasi pada “mesin multi bahasa” sehingga dapat menerima dokumen dengan bahasa yang memiliki ‘byte ganda’. Gelombang terakhir adalah Australia yang memiliki bisnis proses yang jauh lebih matang dan sistem aturan yang kompleks. Implementasi secara global ke 23 negara ini menghabiskan kurang lebih 500 hari.

Hasil Implementasi
Tanpa perlu dipertanyakan lagi semua tim yang bertanggung jawab pada proses implementasi Oracle ERP di Tetronix merasakan bahwa waktu, usaha dan biaya yang dikeluarkan setimpal dengan hasil yang diperoleh. Contoh sederhana, waktu siklus untuk persetujuan kredit yang biasanya melebihi 24 jam kini secara virtual dapat dieliminasi, pengiriman di hari yang sama dengan proses order meningkat dari semula hanya 15% kini mendekati 75%. Dalam bagian keuangan, data yang terintegrasi mengijinkan analis keuangan melakukan pengecekan secara mendetail hingga ke beberapa level dari sebuah rekening, penutupan buku di akhir periode keuangan dapat terakselerasi sempurna. Bagi manajer, ERP memungkinkan adanya standarisasi bisnis proses dan informasi yang terintegrasi memudahkan pekerjaan mereka dalam hal pengambilan keputusan. Bahkan setiap pekerja secara personal merasakan adanya kenaikan efektifitas kerja, dahulu mereka memanfaatkan 90% waktu untuk mengumpulkan data dan 10% waktu untuk mengubah data menjadi informasi, namun kini pekerja dapat memanfaatkan waktu hanya 10% untun memperoleh akurat dan 90% sisa waktu digunakan untuk memikirkan bagaimana cara mengubahnya ke dalam suatu bentuk yang diinginkan pihak manajemen.
Walaupun begitu banyak hasil berguna yang diperoleh demi menyederhanakan kompleksitas perusahaan , namun tim juga tidak dapat menutup mata dari biaya yang digunakan sangat besar; Tektronix mengeluarkan kurang lebih $55 milyar untuk biaya perangkat lunak, internal dan pekerja kontrak. Tapi bagi Tektronix, biaya bukanlah fokus mereka yang utama. Pada akhirnya, tujuan akhir yang ingin dicapai perusahaan untuk dapat memberikan flesibilitas lebih dalam membuat bisnis baru atau menutupnya dapat diperoleh.